Kuliah Isu Isu Aktual Persektif al Quran, Bersama Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim.

0
9

Sekitar jam 10.02 wib (11.02 wita) pagi hari tadi, para mahasiswa Pascasarjana program studi (Prodi) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) melaksanakan perkuliahan secara daring. Perkuliahan yang bertajuk “Isu-isu Aktual Kontemporer Perspektif Al-Qur’an” tersebut mengangkat berbagai macam persoalan dan isu-isu hangat yang menarik dan aktual di masyarakat akhir-akhir ini. Materi perkuliahan kali ini merupakan lanjutan dari materi perkuliahan perdana sebelumnya yang telah dilaksanakan pada Selasa, 2 Maret 2021.

Pada perkuliahan tersebut, Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, S. Ag, M. Ag, selaku pengampu mata kuliah tersebut, menyampaikan beberapa hal penting yang berkaitan erat dengan perkuliahan. Mengawali perkuliahan, pak Mustaqim (panggilan akrab beliau) menjelaskan pengertian dari isu-isu aktual kontemporer, di mana istilah tersebut sepadan dengan istilah bahasa Arab ‘al-qadhāyā al-wāqi’iyyah al-mu’āṣirah. Menurutnya, sebuah isu baru dapat dikategorikan sebagai aktual dan kontemporer jika memenuhi dua syarat.

Pertama, isu tersebut secara fakta sosial memang muncul dan terjadi pada dewasa ini, inilah yang beliau istilahkan sebagai current issues (isu yang sedang hangat). Isu semacam ini menurutnya dapat diketahui dengan cara ‘googling’ atau ‘searching’ melalui bantuan internet dengan kata-kata kunci tertentu, sehingga didapatkanlah isu yang sedang trending dan banyak dikunjungi atau diperbincangkan orang banyak.

Kedua, isu tersebut dibaca ulang dan diinterpretasikan dengan perspektif dan teori yang mutakhir. Dengan ini, isu-isu lama dapat dikategorikan sebagai isu-isu aktual apabila isu tersebut dikaji kembali dengan perspektif yang baru. Misalnya isu poligami yang terjadi di kalangan para ustadz dan selebriti, ketika dibaca dengan perspektif dan teori baru semisal teori tafsir al-Maqāshidi, Ma’na-Cum-Maghza, atau bahkan Pendekatan Analisis Gender, maka akan menghasilkan penelitian yang terbilang fresh dan menarik. Dengan kata lain, sebuah isu dapat dinilai aktual berdasarkan material content-nya dan perspektif atau teori yang digunakan dalam mengkaji isu tersebut.

Selanjutnya, pak Mustaqim menjelaskan secara rinci metode-metode yang dapat digunakan oleh seorang peneliti dalam mengkaji suatu isu yang dilihat dan ditelaah dengan perspektif Al-Qur’an. Adapun metode-metode tersebut penulis rangkum sebagai berikut: 1) Metode Tematik; 2) Metode Tafsir Kontekstual; 3) Metode Tafsir Maqahidi; 4) Pendekatan Analisis Gender; 5) Pendekatan Ma’na-Cum-Maghza; 6) Teori Fungsi Interpretasi G. Gracia; 7) Teori Double Movement Fazlur Rahman; 8) CDA; 9) Teori Konstruksi Sosial dan lain sebagainya.

Dalam menentukan sebuah metode penelitian, menurutnya hal tersebut berbanding lurus dengan keinginan dan tujuan dari sebuah riset. Hal ini tak terlepas dari definisi metode itu sendiri sebagai aṭ-ṭarīqah allatī yutawaṣṣal bihā ilā al-ghāyah, yakni suatu cara yang dengannya bisa sampai kepada tujuan.

Menurutnya, metode Tematik dapat membuat peneliti lebih fokus, holistik, dan komprehensif dalam mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an terkait tema-tema tertentu. Pak Mustaqim juga menekankan bahwa dalam menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki kesamaan tema sangat diperlukan ‘kebiasaan dan tradisi riset’. Tanpa kedua hal tersebut, seorang peneliti akan kesulitan dalam menemukan dan menentukan kata kunci untuk menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan tema yang dikaji.

Pada kesempatan tersebut pak Mustaqim memberikan contoh dalam pengaplikasian metode Tematik. Dalam permisalan tersebut, dia menggambarkan tatkala seorang peneliti ingin mengkaji tentang bencana, maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah menentukan keyword (kata kunci) yang merepresentasikan tema tersebut di dalam Al-Qur’an. Maka setelah dicari akan ditemukan bahwa keyword terkait bencana direpresentasikan oleh Al-Qur’an sebagai ‘al-fitnah’, ‘al-muṣībah’, dan ‘al-balā’. Lalu setelah itu, penulis merekonstruksi penelitiannya dengan judul yang jelas dan menggambarkan isi penelitiannya semisal “Teologi Bencana dalam Perspektif Al-Qur’an”. Setelah menentukan judul yang spesifik, peneliti memunculkan pertanyaan mendasar yang dalam hal ini adalah bagaimana pandangan Al-Qur’an terhadap bencana, musibah, dan wabah?. Dari keyword tersebut dikumpulkanlah berbagai macam ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki kesamaan tema, yakni bencana. Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan beberapa poin penting yang menjadi rujukan terkait pandangan Al-Qur’an terhadap wacana bencana yang terjadi akhir-akhir ini.  

Adapun poin-poin yang menggambarkan pandangan Al-Qur’an terkait bencana tersebut telah dijabarkan oleh pak Mustaqim dalam artikelnya yang bertajuk “Ayat-ayat tentang Musibah dan Bencana”. Dalam artikel tersebut, pak Mustaqim secara singkat menyebutkan 7 ayat berkaitan dengan bencana. Dari 7 ayat tersebut, dia menyimpulkan setidaknya ada 3 poin penting yang mendeskripsikan bencana dalam Al-Qur’an.

Pertama, al-Muṣībah ka Ibtilā’ aw Ikhtibār Huwa min Lawāzim al-Ḥayāh (Musibah sebagai bala’ atau ujian merupakan keniscayaan dalam kehidupan). Poin ini dia sarikan dari dua ayat pada QS. al-‘Ankabūt: 2 dan QS. al-Mulk: 2.

Kedua, Min Anwā’ al-Balā’ (Macam-macam Bala’). Pada poin yang dia sarikan dari QS. al-Baqarah: 155 ini, beliau menjabarkan macam-macam bala’ antara lain: ketakutan, kelaparan, kekurangan harta (baik karena susah dalam mendapatkannya maupun karena hilang atau dicuri), jiwa (seperti kematian atau syahid di jalan Allah), dan buah-buahan (karena sedikitnya hasil panen atau bahkan karena gagal panen).

Ketiga, al-Mawqif al-Miṡāliy li al-Mu’minīn fī Muwājahat al-Muṣībah (Sikap Ideal Orang-orang Beriman dalam Menghadapi Bencana) yang dia sarikan dari QS. al-Ḥadīd: 22, at-Taghābun: 11, al-Baqarah: 156, dan asy-Syūrā: 30.

Perkuliahan ini kemudian diakhiri dengan sesi tanya-jawab oleh para mahasiswa kepada Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, S. Ag, M. Ag, terkait hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan dan materi yang baru saja diberikan.

Oleh : Muhammad Noor ‘Ashry, S. Ag

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here