Semua Butuh Waktu

0
40

Rimbun embun menyemai kesegaran atmosfer pagi.Disana,matahari mengintip malu bertutup deretan pohon jati.Sinarnya menimpa buram permukaan.Hangat.Cukup buatku tuk mendobrak semangat sepagi ini.
Kau perlu tahu,hari ini merupakan momen bersejarah dalam hidupku.Momen yang tak selalu dimiliki orang-orang.Iya,hari ini pertama kalinya aku berangkat mondok.
“Jadilah anak yang patuh,anakku.Senantiasa doakan mamak di rumah.”

Kuingat beberapa patah kata terlontar dari bibir lemah Mamak. Pita suaranya tak sanggup memberi wejangan aneh-aneh. Habis ditelan tangis semalaman. Jangan tanya mata mamakku,pucat penuh kesenduan.Sedih akan ditinggal putra semata wayangnya.Tepian kedua matanya seolah menggambarkan kemarau panjang,kering berkeriput.
Sekali lagi.dengan tekad bulat menuntut ilmu, aku mendeklarasikan :Ini hari pertama kalinya aku berangkat mondok.

“Nabil!,”seru seorang santri melangkah mendekat kearahku,memecah keheningan lamunan.Spontan aku menoleh ke arah datangnya suara sembari memperbaiki duduk.Belum genap aku menjawab sapaan santri di hadapanku,mulutnya lebih dulu menyahut,
“Di aula,”santri di hadapanku nampak terangah kecil,”seluruh santri baru diminta ke aula sekarang juga.Acara ta’arufan.”,kata santri berwajah teduh yang kini mengulum senyum.Dibantu gerak-gerinya, aku bisa menyimpulkan bahwa dia adalah seorang santri senior.
Aku bergeming belum mengerti situasi.Bayangkan, baru beberapa menit lalu aku menata barang-barang bawaan ke almari,seseorang datang tiba-tiba dengan membawa berita mengejutkan.
“Tak perlu ragu,”tambahnya melambai kearahku,”namaku Rizki .Aku tahu namamu karena aku ketua panitia penerimaan santri baru.”,ucapnya menjulurkan telapak tangan.
Aku membalas hangat sapaan tangannya ,”Nabil.”,kataku mencoba tersenyum.Senang mendapat teman baru secepat ini.
“Ayo buruan ,entar ketinggalan!”,komando Rizki kembali.
Okelah,”jadilah anak yang patuh”.Setidaknya,itu kata Mamak yang masih menghujam kuat di ingatanku.Aku pun bergegas memunggungi Rizki,beranjak menuju aula pondok.

“Perkenalkan,nama lengkapku adalah Muhammad Robith Fauzi. Muhammad dinisbatkan kepada nama baginda kita,Nabi Muhammad dengan arti mulia:yang dipuji-puji. Robith memiliki arti penyambung atau penghubung. Sedangkan Fauzi berarti kemenangan ataupun keberuntungan.Kalian boleh memanggilku Robith. Atau kalau tidak,namaku dapat agak diinggris-inggriskan menjadi Robert.”,tutur panjang santri baru yang tengah memegang microphone.
Seketika ruangan dipenuhi sorak-sorai para santri.Beberapa tertawa.Riuh bercengkrama.Lebih banyak dari mereka nyeloteh,mengolok santri yang mengaku dirinya bernama Robert.
Bagaimana denganku?Kupastikan tanganku sedang dilanda gemetar hebat.Lihatlah!Filosofi nama panjang rizki amat menakjubkan.Tak terhitung berapa kali aku menengok arloji tangan yang seolah detiknya tak bergerak,macet menunjukkan pukul sembilan pagi.
Namaku? Astaga! namaku hanya sebongkah saja.Tak lebih,tak kurang. Nabil.Itu satu-satunya nama yang disematkan mamak kepadaku.Lantas apa yang akan diselorohkan para santri lama nanti?
Sementara pikiran kalutku menyeruak rusuh,Robith perlahan menyelesaikan ta’arufnya.Mulai tempat tinggal,hobi, dan beberapa identitas lain dengan rekomendasi bebas para santri lama.Dengan salam penutup,Robith beranjak duduk di barisan santri baru.
Dengung speaker aula kembali menggema dipawangi seorang moderator-yang tentu juga santri-.Dengan suara sedikit berderak,moderator tadi melambai mempersilahkanku maju.Membuatku berjuang menegakkan kaki, berdiri dengan keberanian yang tersisa.
“Nama…”,rumpang kata kuucapkan,sorak-sorai santri kembali bergemuruh.Mengarak tawa lepas para santri.Dengan serempak mereka berteriak mengeja,
“Assalaamu’alaikum warohmarullaahi wabarokaatuh”
Aku malu bukan kepalang.Kelupaan membuka salam.Rasa percaya diri yang kubangun, ambruk seketika.Mulutku kelu.Pandanganku mulai goyah.Lihatlah,ini bahkan masih pembuka,belum bagian nama.Tapi tawa mereka telah memberondong deras telingaku.Membuatku kikuk.
Sabar menunggu gelak para santri reda,kusempatkan menarik nafas sedalam mungkin.Mengatur gelagat tingkah.
“Oke,”,kataku beberapa detik kemudian.Kulihat satu-dua santri masih tak kuasa menahan cekikikan.
“ Assalaamu’alaikum warohmarullaahi wabarokaatuh”,Salamku menyelamatkan panggung.Syukurlah mereka menjawab salamku kompak.
“Perkenalkan,namaku Nabil.Hanya itu.”
Persis seperti yang kukira,mereka sontak memegangi perut mereka.Menggilas tawa yang tak jelas dimana titik kelucuannya.Tawa mereka semakin membuncah ketika seorang santri berceloteh,
“Sudah satu kata,pasaran lagi.Hahaha,ibunya kehabisan kosakata”,lantangnya disusul tawa mengejek.
Aku tak tahan.Di mana yang katanya pondok pesantren.Jelas-jelas penghuninya biadab plus tak beretika.Menganggap anak baru terlampau fana’ nan hina,hingga pantas untuk dipermalukan.
Aku muak.Kubanting gemas microphone itu ke genggaman moderator ,lantas berlari meninggalkan aula dengan perasaan tak karuan.Mengapa semuanya salah?

Aku menangis
Di sudut kamar nomor 6 ,keheningan menjadi saksi isak tangisku.Tempurung otakku mendidih,mengutuk segala takdir yang telah dititahkan-Nya.

”Tega sekali Kau,Allah!”,bentakku dengan suara tercekat.

Di waktu bersamaan ,bulir-bulir air mata mengalir tak tertahankan.Beruntung Rizki datang menghampiriku lagi,menghibur.
“Tak apa”,lirih Rizki setengah berbisik,memegang halus pundakku yang membungkuk.
“Aku tahu,ini pertama bagimu.Menjemput tekad dengan awal menjerat.Aku tahu itu,Nabil.”,Rizki diam sejenak,membiarkan bulir air mataku menggelinding ke sela-sela leher.
Aku masih merunduk.Menunggu kalimat lanjutan Rizki.Dia satu-satunya kenalanku saat ini.Itu berarti dia juga satu-satunya penghiburku.
“Ah,aku tak akan menyampaikan ceramah ataupun khotbah kali ini,tentu kau sedang gundah,kan?Begini saja,boleh aku memberimu saran?”,tanyanya lembut menerpa.
Sebagai jawaban ,aku mengangguk kecil.
Rizki menyimpul senyum,lega akan tanggapanku.”Duhai nabil,tatkala malam tiba,sempatkanlah dirimu mengerjakan sholat malam.semoga tak lama relung hatimu akan membaik”,ucap Rizki tulus ,sebelum punggungnya lenyap di balik daun pintu.Meninggalkanku sendirian.
Oke,aku memang harus berusaha menjalani alur ini dengan maksimal.Ini belum waktunya menyerah,bahkan ini belum dimulai.Begitulah,kumantapkan tekad,kuusap sisa derai air mataku.
Sholat malam,tunggu aku.

Kejadian di aula pondok membuat namaku tersiar secepat kilat,menjalar seantero pondok.Cobalah sebut namaku di kerumunan para santri,niscaya tawa lebar mereka menganga kembali.Saling menceritakan tragedi bodoh itu.
Tak pelak,hal itu juga telah membuatku cepat mendapat kenalan baru. Acara ta’arufan selesai tepat sewaktu Rizki beranjak pergi dari kamarku.Para santri-khususnya santri baru-ramai mengerumuniku.Mereka tercengang atas kelakuanku beberapa menit yang lalu.Satu-persatu bergilir bersalaman.saling bertukar nama.Juga tawa.
Perasaan senang mendapat banyak kawan menyelusup dengan cepat.Membuatku lebih nyaman.Sigap semili merenggangkan sesak dadaku saat ini.Ternyata pondok tak begitu buruk,pikirku selintas.

Aku jatuh ke buaian mimpi kira-kira pukul empat pagi.semalam suntuk aku bersimpuh doa.Berusaha kumencoba mengikuti tetuah Rizki.Qiyamul lail, meminta penjelasan terbaik dari segala ketentuan Yang Mahaadil.
Adzan subuh merebak retak di angkasa.Bedug berdentum di pukul bertalu-talu.Memaksa para santri membongkar rangkaian mimpi.Aku masih terkulai lemah.Mengantuk berat.Bahkan aku merasa,semalam aku belum tidur.
Suara pembimbing pondok tangkas menggertak pecandu mimpi yang masih malas-malasan.Dengan bantuan semprotan air,ritual pembangunan santri terbilang efektif dan cepat.Aku pun bersiap-siap melaksanakan sholat subuh berjamaah.Gontai berjalan ke tempat wudhu.
Pengajian perdana kitab ‘ta’limul mutaallim’ yang digelar usai sholat subuh berjalan penuh khidmat.Jujur saja,aku belum mahir memaknai pegon (aksara arab berbahasa jawa),meskipun sedikit banyak prosedur penulisannya telah kukuasai.
Menjelang pukul enam,peserta pengajian serempak bergumam:
والله أعلم بالصواب
Aku baru tahu,itulah rangkaian kalimat yang selalu dirindukan santri.Pertanda bahwa pengajian kitab kuning telah selesai ditutup.Para santri berdesakan berlomba mencium tangan Pak Kyai.Selepas itu,mereka kembali ke kamar masing-masing dengan menenteng hormat kitab yang dibawa.
Aku mengantuk.Dua kata yang cukup menjadi alasanku merebah mesra di atas matras.Menunggu pelupuk terbenam sendirinya.Menenggak beban-beban mata dan pikiran yang tak bosan menggantung.
Tiba-tiba,
KLONTANG!
Teko logam meluncur bebas ke sudut kamar.Mengarah deras mengantam tembok di sisiku.Berdenting ramai.Menyedot perhatian santri lain yang tengah beraktivitas.Aku terjungkal terbangun dari posisi setengah tidur,terkejut bukan main.Belum sadar apa yang terjadi,bentakan menggelegar datang menyusul,
“Anak baru kerjanya tidur melulu.Kerja bakti sana! Ambil air!”,suara menggetar seorang santri senior berperawakan besar membuatku bergidik ngeri.
Alih-alih jawaban patuh yang di gumamkan mulutku,mataku lebih dulu menjawab.Iya,kau benar,dengan derai tangis.Aku masih kecil.Pun aku masih baru.Sempurna belum mampu menerima semua kenyataan pahit ini.Mana salah mana benar,aku belum paham.
Kejadian memilukan itu mengajak kakiku tuk menemui Rizki.Ditemani rembetan air dipipi,aku mencarinya.
“ada apa?”,Tanya rizki tepat ketika aku berhasil menemukannya di kantor.Dia menenangkanku sebisa mungkin.Menyuruhku duduk terlebih dahulu
Aku tak menjawab.Diam membatu.Antara ingin mengadu atau tidak.
“Ssst…Tak perlu menangis”,kedua tangan Rizki menangkup lembut sepasang bahuku.
“kenapa pondok pesantren begitu mengerikan.Kejam.Kenapa?!”Tumpahku.

“Santri?Makhluk apalah itu.Mereka hanyalah sebutan bagi orang-orang munafik!”,teriakku keras.Entah dari mana kata-kata itu bisa menguar dari mulutku.
“Dengan bualan sarung dan peci,puaskah mereka berkelit di balik rekayasa?Berapa rantai kepalsuan yang telah mereka sumbangkan di negeri ini?”,cercaku menghujan.
Rizki membiarkanku meluapkan segala emosi dan pikiran bebalku yang terpendam.
“Aku ingin keluar,Rizki.apapun yang terjadi aku ingin berhenti mondok!”,bentakku sesenggukan.Masih dihiasi tangisan menderu.
Rizki menghirup sejenak nafas prihatin.Paham akan situasi yang menimpa diriku.Turut bersedih.Dia menatapku penuh simpati,sebelum utaian kata rapi disulamnya.
“Nabil,”,mulainya halus,wajah teduhnya mengguratkan kharisma yang elok.Dia menegakkan tubuhku yang tengah merunduk tersedu-sedu.
“Kamu ingat apa tujuanmu kemari,Nabil? Ayolah,kamu pasti ingat.Menuntut ilmu,setidaknya itulah tujuan paten setiap santri yang menimba pengalaman di pondok.” Tuturnya dengan ritme dan intonasi sangat rendah.
“Pondok pesantren tak jahat ,Nabil.Para santri pun tak demikian.Mereka sungguh berperasaan.Mencurahkan perhatian utuh kepada santri lain.”,Rizki diam sejenak.Sedangkan aku merasa tak terima dengan omong kosongnya.Mana yang dianggap berperasaan,coba?
“Rasa sayang dan perhatianlah yang membuat mereka bertindak seperti itu,Nabil .Mereka menyayangimu layaknya saudara sendiri.Namun cara mereka mengekspresikan perasaan itulah yang berbeda-beda.”,jelas Rizki menarik sedikit demi sedikit kelegaanku.
“itulah yang membedakan pondok dengan lembaga pendidikan lain.Kemandirian,keberanian bersosial,penempaan mental baja,kesadaran bersaudara,dan masih banyak nilai kehidupan yang termuat di dalamnya.
“Kamu hanya perlu menerimanya,itu kuncinya.Rentangkan sayap hatimu.Biarkan kesabaranmu menyamudra.Mengalirlah bak sungai yang mengharapkan laut.Cukup ikuti alur,taati segala perintah kebajikan,dan kuyakin kamu akan terbiasa.”tutup Rizki memejamkan matanya sedetik.Kulihat pelupuknya mengkilat terlapis air mata.Terbawa perasaan.
Apakah Rizki benar?

Aku tersadar.Kata-kata Rizki sepenuhnya benar,ikuti alur.Aku yang salah.Melulu menilai pondok.Mereka membantuku menyiapkan mental tertebal yang pernah ada.Mereka membimbingku merajut kedisiplinan agar selalu siap di masa mendatang.Juga,merekalah yang menyapihku agar menjadi orang berbudi pekerti luhur.
Ampuni aku ,Ya Allah,selalu mengumpat ketetapan yang Kau berikan.
Atas nama pondok,Maafkan aku ,Pak Kyai, teman-teman.Aku terlampau gegabah menilai kalian,menganggap kalian makhluk-makhluk nista yang bersembunyi di balik kemunafikan gaya.
Terakhir,maafkan Nabil ,Mak.Belum bisa menjadi anak yang patuh sesuai harapan Mamak.

oleh:Muhammad Baston ‘Abqori

Bantul
16\11\2018

Sumber : Blogspot

Mohammad Fattahun Ni'am
Latest posts by Mohammad Fattahun Ni'am (see all)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here